Rabu, 18 Agustus 2010

PROFESI WARTAWAN

MENJADI wartawan bukan profesi asal pilih, talenta dan motifasi adalah kekuatan utama sebelum pilihan itu benar-benar dijatuhkan. Banyak yang menyangka menjadi wartawan cukup dengan mengantongi kartu pers, maka selesailah semua. Tidak heran jika kemudian predikat wartawan banyak disandang orang. Bahkan cukup dengan menenteng kamera, terlebih berlensa panjang, maka isi kepala orang kebanyakan sontak menyimpulkan itu pasti wartawan.
Beberapa waktu lalu, saya mampir di salah satu Stasion Pengisian Bensin Umum (SPBU) di Kota Makassar. Dua orang pria muda, dengan sigap melayani mulut tangki bensin kendaraan saya. Usai menarik nozel pompa, salah seorang dari mereka bertanya, “Bapak wartawan?,” ujarnya dengan nada serius. Stiker media tempat saya mengabdi, ukuran tiga centimeter membentang manis di kaca mobil, itulah yang ditandainya. “Ya..memang kenapa,” jawabku. “Saya juga wartawan,” ujarnya dengan senyum bangga.
Rupanya lembaran yang ditarik dari dompetnya adalah selembar kartu wartawan, yang dikeluarkan media mingguan yang terbit di Kota Makassar. Saya menjabat tangannya erat-erat, tersenyum penuh arti, dan kemudian pamit meninggalkan SPBU yang rupa-rupanya mempekerjakan ‘wartawan’ sebagai petugas pelayan bensin. Sepanjang jalan otak saya tidak berhenti bertanya, dengan dasar apa kartu wartawan itu dikeluarkan kepada Mansyur, si ‘wartawan’ pelayan bensin tadi.
Kejadian serupa acapkali saya temui, salah satu lainnya adalah saat bertemu nara sumber yang beritanya sedang saya tulis. Pria tambun paruh baya itu keturunan suku Tionghoa. Cerdas, kaya dan sangat terlihat familiar, sebelum memulai wawancara saya, Ko Hasian kira-kira begitulah sapaan akrabnya, menarik selembar kartu wartawan dari dompetnya. “Hati-hati pak, saya juga wartawan,” ujarnya dengan senyum lebar penuh percaya diri. Kartu wartawan yang dipegangnya dikeluarkan media mingguan yang juga terbit berkala di Makassar. ‘Wartawan’ seperti Ko Hasian juga Mansyur, jumlahnya tak terhingga di Makassar, mungkin juga di seluruh penjuru tanah air.
Jadi sesungguhnya siapa yang pantas menyandang gelar wartawan?, apakah mereka yang wara-wiri tenteng kamera, si Mansyur, atau Ko Hasian?. Cerita lain soal ‘wartawan’ acapkali terdengar miris, karena berkaitan dengan prilaku memeras, mengancam, meminta fasilitas gratis, bahkan sampai mengacaukan barisan antri di unit pelayanan social. Seorang kepala sekolah di Jeneponto, terpaksa harus dilarikan kerumah sakit, dua hari terbaring lemas, jantungnya kumat setelah menghadapi empat orang ‘wartawan’ yang meminta jatah alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dengan alasan dana pengamanan media.
Salah seorang kolega yang kebetulan menjabat kepala dinas di Kota Makassar, buru-buru memasukkan empat lembar pecahan Rp50 ribu ke dalam amplop, saat saya wawancarai. Amplop itu disodorkan kepada saya, menurutnya itu lazim untuk mempercepat wawancara dan menghindari pertanyaan proyek, atau mempercantik isi berita besok. Saya tersenyum kecut, nilai saya sebagai wartawan begitu rendah di matanya. Tetapi kolega itu tidak sepenuhnya salah, prilaku ‘wartawan’ memang membentuk sikap pejabat dalam menghadapi para pekerja media, terserah apakah dia wartawan sesungguhnya, atau wartawan SPBU (Siap Pungut Berapapun Uangnya).
Jadi apakah semua wartawan menerima amplop dan isinya?. Pertanyaan itu dilontarkan salah seorang kawan saat kami minum kopi bersama. Saya katakan tidak..!. Kolega saya yang kepala dinas kota itu, amplopnya saya tolak. Awalnya dia terlihat kaget, kecewa kemudian bertanya-tanya, mengapa uang itu tidak saya terima. Apakah seandainya nilai yang dimasukkan Rp1 juta juga akan saya tolak?. Jawabannya tergantung…maksudnya tergantung apakah saat itu saya tidak dalam kesulitan untuk bayar utang atau tagihan yang jatuh tempo. Namun kata saya, selama berprofesi sebagai wartawan, saya bertekad untuk tidak bersinggungan uang dengan nara sumber. Alhamdulillah, itu bisa saya jalani sekalipun penuh dengan pertempuran batin.
Pernah sekali saya diperhadapkan dengan godaan uang, ketika itu menjelang pemilihan walikota. Salah seorang wakil walikota yang saya wawancarai, menelepon menyatakan rasa puas atas wawancara yang saya turunkan keesokan harinya. Saya diundang ke kantornya, kami ngobrol santai dan makan siang bersama. Saat pamit, sang wakil walikota yang kemudian terpilih itu menyodorkan amplop, isinya Rp1 juta. Saya katakana untuk harga halaman koran yang berisi wawancaranya, sudah ditetapkan kantor senilai Rp500 ribu, sehingga pembayarannya lebih. Sambil merangkul saya, pejabat itu mengatakan yang Rp500 ribu itu milik saya, sebagai perasaan puas atas hasil wawancaranya. Saya menerima dengan hati penuh gejolak.
Beberapa waktu kemudian, saya menelepon wakil walikota yang baik hati itu, dan mengabarkan bahwa uang Rp500 ribu itu sudah menjadi kambing kurban bagi panti asuhan pengungsi muslim Timor Timur di Km19 Biringkanaya Makassar. Ia terperangah dan merasa tidak mengirim kambing kurban bagi anak panti. Selesai mengirim daging kambing itu, saya merasa derajat kewartawanan saya tidak jatuh begitu saja. Sering kali menghadapi situasi sulit yang dilematis soal uang dengan nara sumber, saya memilih siasat berbagi dengan mereka-mereka yang berhak.
Wartawan…apakah menerima amplop berisi uang, tiket, kamar hotel, fasilitas lain yang bernilai rupiah boleh jadi akan berhadapan dengan pertempuran batin yang sengit. Harga diri, derajat profesi, seakan diperhadapkan dengan kenyataan bahwa citra kita sedang dalam proses degradasi. Sebelum membetulkan letak parkir kendaraan saya, seorang tukang parkir yang saya kenal dekat lari tergopoh-gopoh, “Parkirnya di sini saja pak wartawan,” ujarnya, sembari menarik plang bertuliskan khusus pemilik ruko. Wartawan kembali menerima fasilitas khusus…!!!!

Makassar, 17 November 2009.

Zulkarnain Hamson
+62811-469274

Tidak ada komentar:

Posting Komentar